MARTAPURA, Kontak24.com – Sudah lebih dari sepekan, Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, bergelut dengan kepungan air. Hingga Senin (05/01/26)
debit air bukan menunjukkan tanda-tanda surut, melainkan kian mendalam. Kondisi ini praktis membuat aktivitas ekonomi warga yang mayoritas berada di bantaran sungai Martapura ini lumpuh total.
Ekonomi Lumpuh, Warga Berharap Uluran Tangan Pemandangan desa yang biasanya hidup dengan aktivitas sosial dan ekonomi kini berganti menjadi senyap, hanya menyisakan suara kecipak air yang masuk ke dalam rumah. Banyak warga yang mulai kehilangan sumber penghasilan karena tempat usaha mereka terendam.
“Kami kada kawa (tidak bisa) bausaha lagi, harapannya ada bantuan dari pemerintah ke sini,” ujar seorang pria warga Dalam Pagar Ilir Kampung Kamasan dengan nada getir dalam sebuah unggahan video di Medsos.
Keluhan ini mewakili suara hati ratusan warga lainnya yang kini hanya bisa pasrah menanti air surut sembari berharap bantuan logistik menyentuh dapur-dapur mereka yang mulai mendingin.
Rumah Warga Jadi Pelabuhan Terakhir
Di tengah keterbatasan posko resmi yang mampu menjangkau setiap sudut desa, muncul secercah kemanusiaan. Solidaritas warga justru menguat di tengah musibah.
Salah satu rumah warga di Desa Dalam Pagar kini berubah fungsi menjadi tempat penampungan pengungsi bagi para tetangga yang rumahnya sudah tidak bisa lagi ditempati untuk tidur.
Risda, salah satu anggota keluarga pemilik rumah yang dijadikan tempat pengungsian, menceritakan bahwa aksi spontan ini sudah berlangsung hampir dua minggu sejak debit air meningkat tajam.
“Para pengungsi ini adalah tetangga-tetangga kami sendiri di Dalam Pagar. Mereka sudah mengungsi di sini lebih dari seminggu,” ungkap Risda kepada jejakborneonews.com.
Mengungsi ke Rumah Kerabat
Bagi warga yang memiliki pilihan, mengungsi ke rumah kerabat di daerah yang lebih tinggi menjadi jalan keluar terakhir. Namun, bagi mereka yang tetap bertahan, setiap hari adalah perjuangan untuk menjaga kesehatan di tengah air yang mulai keruh dan dingin.
Desa Dalam Pagar yang dikenal sebagai kawasan religius dan bersejarah ini kini menanti perhatian lebih dari pemerintah daerah. Selain bantuan pangan, warga sangat membutuhkan bantuan kesehatan dan perlengkapan bayi, mengingat durasi banjir yang sudah melewati satu pekan tanpa kepastian kapan akan benar-benar surut. (her)








