TANAH BUMBU, Kontak24.com — Kabupaten Tanah Bumbu, yang beribu kota di Batulicin, kini telah menginjak usia 23 tahun sejak resmi dimekarkan. Dikutip dari situs Pemprov Kalimantan Selatan (Kalsel), daerah ini resmi memisahkan diri dari kabupaten induknya, Kabupaten Kotabaru melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 pada tanggal 8 April 2003,
Membawa semboyan “BERSUJUD” (Bersih, Syukur, Jujur, dan Damai), Tanah Bumbu memiliki rekam jejak sejarah yang panjang. Dimulai dari era kerajaan, masa kolonial, hingga bertransformasi menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Kalsel, berikut sejarahnya.
Masa Kerajaan Tanah Bumbu
Jauh sebelum menjadi sebuah kabupaten, kawasan ini bermula dari Kerajaan Tanah Bumbu. Dalam buku Sejarah Kesultanan Dan Budaya Banjar oleh Sahriansyah terbitan IAIN Antasari Press, kerajaan ini didirikan pada abad ke-17 oleh Pangeran Dipati Tuha, putra dari Sultan Saidullah (Raja Kesultanan Banjar).
Wilayah ini pada dasarnya adalah apanase (tanah lungguh) dari keraton Kesultanan Banjar, di mana Pangeran Dipati Tuha diutus untuk memimpin dan menjaga poros maritim di pesisir tenggara Kalimantan.

Saksi Sejarah Gedung 7 Pebruari Pagatan dalam Terbentuknya Tanah Bumbu Bersujud.
Pada awal berdirinya, wilayah kekuasaan kerajaan ini sangat luas, membentang dari Tanjung Aru hingga Tanjung Silat. Kawasan strategis ini kaya akan sumber daya hutan, rempah, dan menjadi jalur perlintasan maritim antarpulau yang sibuk.
Seiring waktu dan bergantinya generasi penguasa, kerajaan ini tidak lagi utuh. Sistem pembagian warisan dan konflik internal memecah kerajaan induk menjadi beberapa divisi atau kerajaan kecil.
Selain suku Banjar dan Dayak, wilayah Tanah Bumbu juga menjadi tujuan migrasi suku Bugis sejak abad ke-18. Mereka diizinkan membuka lahan dan bermukim hingga akhirnya diakui oleh Kesultanan Banjar.

Kedua Mantan Bupati, Sangat Berjasa Membangun Tanah Bumbu Dalam Tahap Berkelanjutan.
Komunitas ini membentuk Kerajaan Pagatan di bawah pimpinan Puwana Deke, yang diberi gelar Kapitan Laut Pulo. Dalam perkembangannya, wilayah ini kerap disatukan menjadi Kerajaan Pagatan dan Kusan.
Campur Tangan Kolonial Belanda
Memasuki abad ke-19, kedaulatan kerajaan-kerajaan kecil di pesisir lambat laun berada di bawah kendali Hindia Belanda, terutama pasca-Perjanjian Karang Intan (1817) yang memaksa Kesultanan Banjar menyerahkan sebagian besar wilayah pesisirnya. Secara historis, daerah ini juga pernah dikenal dengan nama Tanah Koesan pada 1879.
Pada akhir abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda merangkum wilayah ini menjadi Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe yang beribu kota di Kota Baru. Wilayah administratif ini membawahi 11 swapraja, meliputi Kesultanan Paser dan wilayah Tanah Bumbu (Sabamban, Kusan, Pagatan, Batu Licin, Pulau Laut dengan Pulau Sebuku, Bangkalaan, Cantung dengan Buntar-Laut, Sampanahan, Manunggul, dan Cengal).
Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu
Setelah Indonesia merdeka, wilayah ini tergabung dalam Kabupaten Kotabaru, salah satu kabupaten tertua di Kalimantan Selatan. Seiring bergulirnya waktu dan kebutuhan otonomi daerah, muncul wacana pemekaran dengan nama awal “Daerah Tingkat II Persiapan Tanah Bumbu Selatan”.
Puncak perjuangan otonomi ini terwujud pada tanggal 8 April 2003, hari yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Tanah Bumbu setiap tahunnya. Pada awal pembentukannya, Tanah Bumbu hanya memiliki lima kecamatan utama, yaitu:
Kecamatan Kusan Hilir
Kecamatan Sungai Loban
Kecamatan Satui
Kecamatan Kusan Hulu
Kecamatan Batulicin
Pusat pemerintahan kabupaten ini terletak di Kelurahan Gunung Tinggi (dulunya Desa Pondok Butun), sementara sentra kegiatan usaha dan ekonominya berpusat di Kecamatan Simpang Empat (sebelumnya bagian dari Batulicin).
Geografi dan Potensi Wilayah
Dikutip dari penelitian Niken Sri Mahlinda berjudul Pemekaran Kabupaten Tanah Bumbu berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, wilayah ini terletak persis di ujung tenggara Pulau Kalimantan, pada koordinat 2°52′ – 3°47′ Lintang Selatan dan 115°15′ – 116°04′ Bujur Timur.
Memiliki luas wilayah sekitar 5.067 km², kabupaten ini berbatasan langsung dengan:
Utara: Kabupaten Kotabaru
Timur: Selat Laut
Selatan: Laut Jawa
Barat: Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut
Secara demografis, wilayah ini terus berkembang. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, Tanah Bumbu dihuni oleh 267.913 jiwa, dan pada tahun 2022 populasi tersebut bertumbuh pesat menjadi 341.137 jiwa.
Pertumbuhan ini selaras dengan kekayaan alamnya yang melimpah, mencakup wilayah dataran tinggi (up land), dataran menengah (middle land), hingga dataran rendah (low land) di area pesisir.
Visi dan Misi Pembangunan
Memasuki usianya yang ke-23 tahun, Kabupaten Tanah Bumbu terus bergerak maju dengan visi dan misi yang jelas untuk kesejahteraan masyarakatnya.
Visi:
Membangun Tanah Bumbu Maju, Mandiri, Religius dan Demokratis.
Misi:
Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, Produktif dan Berakhlak Mulia.
Mewujudkan Infrastruktur Wilayah yang Mantap untuk Menopang Daya Saing Pelayanan Publik dan Perekonomian.
Mewujudkan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Arif dengan Memperhatikan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan.
Mewujudkan Perekonomian Daerah Berbasis Pengembangan Potensi Maritim dan Agroindustri.
Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Melayani, Sederhana dan Akuntabel. (her)








