Menu

Mode Gelap
Gagal Berangkat, 41 Calon Jemaah Umrah HST Tuntut Pengembalian Dana Rp1,1 Miliar Inisial MR. menggunakan dokumen Buku Pemilik BPKB palsu untuk mengelabui korbannya hingga Korbannya Mengalami Kerugian mencapai Rp21,7 miliar. DPRD Tanah Bumbu Panggil Disdik: Soroti Minimnya Siswa Baru di Sejumlah SD, Ada yang Hanya Dapat 1 Orang Investasi Bodong Truk Batu Bara Pakai BPKB Palsu, Polres Tanah Bumbu Ungkap Kasus Penipuan Rp21,7 Miliar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kotabaru sukses Gelar Pemilihan Nanang Galuh Kebudayaan Kotabaru 2026 Club PT.PSM juara Saijaan League Futsal Competition 2026

Advertorial

RI Bisa Kirim “Kiamat” Baru ke Amerika, Warga AS Dibuat Menderita

badge-check


					RI Bisa Kirim “Kiamat” Baru ke Amerika, Warga AS Dibuat Menderita Perbesar

INDONESIA, kontak24 – Ancaman Amerika Serikat (AS) menunda tarif balasan terhadap 57 negara selama 90 hari. Penundaan tersebut menjadi kabar gembira buat dunia dan warga AS sendiri. Pasalnya, warga AS juga bisa menjadi korban perang dagang karena mereka harus membayar harga produk impor lebih mahal. AS juga bisa kehilangan pasokan produk dari dalam negeri, termasuk Indonesia.

Trump memilih untuk menunda pengenaan tarif demi memberi ruang negosiasi agar ketegangan dagang tak berujung pada pembalasan yang merugikan kedua pihak.

Di tengah ketegangan akibat rencana kenaikan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS), perhatian tertuju pada komoditas ekspor utama Indonesia yang memiliki volume besar ke AS. Indonesia menyuplai produk perikanan sehingga akan sangat menentukan ketersediaan dan harga komoditas tersebut di Amerika.

Salah satu sektor yang menjadi sorotan adalah produk perikanan, khususnya ikan, kerang, dan olahannya. Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama bagi produk perikanan Indonesia, sehingga kebijakan tarif yang diberlakukan dapat berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor sektor ini.

Berdasarkan data dari United States Department of Agriculture (USDA), Indonesia konsisten berada di posisi 10 besar sebagai pemasok produk ikan, kerang, dan olahannya ke Amerika Serikat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi fluktuasi dalam nilai ekspor komoditas tersebut.

Dari kedalaman laut Nusantara, ikan dan udang Indonesia mengarungi samudra hingga ke meja makan warga Amerika Serikat Dilansir CNBC Indonesia

Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), nilai ekspor total produk perikanan dan kerang-kerangan (fish and shellfish) Indonesia ke AS mencapai US$2,00 miliar pada 2023. Angka ini membuat Indonesia menjadi salah satu eksportir utama ke Negeri Paman Sam, namun masih berada di bawah India (US$2,54 miliar) dan Chile (US$3,24 miliar).

Dalam kategori “prepared fish and shellfish” produk olahan siap saji yang nilainya kian penting dalam perdagangan global Indonesia mencatat nilai ekspor sebesar US$847,6 juta pada 2023, naik pesat dari US$804,6 juta tahun sebelumnya. Namun posisi ini masih tertinggal dari Thailand yang jadi juara di segmen ini dengan nilai ekspor US$891,3 juta ke AS.

Sementara itu, pada kategori ikan fillet dan cincangan (fish fillets and mince), ekspor Indonesia mencapai US$374,1 juta. Angka ini berada di bawah Vietnam (US$521,3 juta), China (US$979,4 juta), dan Chile yang sangat dominan di kategori ini dengan ekspor mencapai US$2,88 miliar pada 2023.

Yang menarik, untuk ekspor kerang dan udang beku (shellfish, fresh or frozen), Indonesia menempati posisi yang lebih kuat dengan nilai US$756,9 juta. Namun lagi-lagi India mendominasi pasar ini dengan nilai US$1,91 miliar, disusul oleh Kanada.

Secara keseluruhan, total nilai impor produk laut AS dari seluruh dunia pada 2023 tercatat sebesar US$24,8 miliar, menurun dari US$29,4 miliar di 2022. Volume impor juga turun menjadi 2,82 juta ton dari sebelumnya 3,08 juta ton. Artinya, ada penurunan permintaan global, namun ini bisa jadi peluang bagi Indonesia untuk merebut pangsa pasar dari negara pesaing yang melemah.

Selain itu AS juga banyak mengimpor tuna, tongkol, cakalang, cumi, sotong, gurita, rajungan, hingga rumput laut dari Indonesia. Permintaan tetap tinggi, menandakan bahwa sektor ini bukan hanya penopang ekspor RI, tapi juga bagian penting dari rantai pasok pangan AS.

Dari sisi Indonesia, tarif tambahan jelas membuat produk kurang kompetitif. Tapi bagi AS, kehilangan suplai dari Indonesia bisa menciptakan kekosongan pasokan atau setidaknya menaikkan harga produk laut di pasar domestik. Dampaknya bisa menjalar ke inflasi pangan, yang justru sedang coba ditekan.

Dengan struktur ketergantungan seperti ini, ancaman tarif resiprokal justru menjadi bumerang. AS butuh ikan Indonesia, mungkin lebih dari yang mereka sadari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Siswa SDN 2 Kampung Baru Wakili Tanah Bumbu di Olimpiade Sains Tingkat Nasional,

30 Juni 2026 - 05:35 WIB

Dalam Menyelamatkan 30 Ribu Jiwa Polres Tanah Bumbu Musnahkan 21 Kilogram Narkotika Jenis Sabu dan 30,5 Ekstasi.

29 Juni 2026 - 11:54 WIB

Wujudkan Semangat Berbagi, Majelis Taklim Nurul A’la Potong Hewan Kurban Hasil Tabungan Jemaah pada Idul Adha 1447 H Tahun 2026

28 Mei 2026 - 06:18 WIB

Akibat Pompa SPBU Bermasalah Puluhan Mobil Dan Motor Roda Dua Mengantri Panjang.

15 April 2026 - 07:00 WIB

Jelang Lebaran, Penumpang Kapal Batulicin Tanjung Serdang Masih Sepi

16 Maret 2026 - 08:27 WIB

Trending di Advertorial